Part 1 : Tradegi Senja
Jelang matahari terbenam, langit tampak gulita bersama sekawanan domba hitam dan gemuruh yang menggelegar. Senja itu diisi hujan lebat disertai angin kencang.
Seorang gadis berkebaya kutu dan rok batik berjalan di bawah badai membawa seikat kayu bakar di punggungnya. Tubuhnya basah kuyup begitu juga dengan kayu bakarnya. Gadis itu tak memiliki waktu untuk sekedar berteduh. Jika ia melakukannya hari akan semakin gelap dan jalan pulang tidak akan terlihat.
Hujan semakin lama semakin deras, gemuruh dan kilat tampak menyala-nyala di atas sananya. Sesekali gadis itu menutup telinga dan memejamkan mata erat. Ia takut sekali. Dengan langkah kaki yang semakin cepat, kakinya terus menapaki tanah lempung hutan yang membuat kaki mulusnya penuh noda coklat kemerahan.
Tak berapa lama lagi desanya akan terlihat. Namun, hari sudah gelap hanya cahaya remang-remang yang kini menjadi penerang gadis itu. Berbekal instingnya, ia terus berjalan di bawah guyuran hujan yang tak kunjung reda.
***
Di bawah atap gubuk dengan tembok ayaman bambu masih dengan guyuran hujan lebat dan badai. Sepasang Ibu dan anak tampak gelisah. Sang Ibu yang duduk di tempat tidur tak henti-hentinya merapal doa untuk keselamatan cucunya. Dan sang Anak yang kini adalah seorang ibu tak lelah mondar bolak-balik di ruang yang luasnya 5x5 meter yang di bagi dua dengan dapur.
"Kenapa Mira belum juga kembali, Nak?" tanya sang Ibu pada anaknya.
"Seharusnya dia sudah kembali, Bu. Setelah mengambil kayu bakar di hutan. Harusnya dia sudah pulang." jawab Sang anak gusar.
"Sebaiknya kamu jemput dia dan bawa pulang. Tidak baik jika Mira masih di hutan apalagi hujan badai begini."
"Baiklah, Bu. Aku akan menjemputnya. Tolong ibu tetap rumah jangan ke mana-mana." Sang Ibu mengangguk patuh dan membiarkan ibu dari cucunya itu menjemput anaknya.
Belum sampai sang Anak pergi menjemput, pintu gubuk sudah di gedor-gedor kencang dari luar.
"Andin, cepat buka. Mungkin itu Mira." Andin, nama anak sekaligus ibu dari Mira mengangguk dan segera membuka pintu.
Saat pintu telah terbuka, tampak Mira dengan wajah pucat dan bibir membiru. Tubuh gadis itu ambruk.begitu saja, untungnya langsung ditangkap sang Ibu. Andin setengah panik langsung membawa anaknya ke tempat tidur membaringkannya. Terlihat Ibunya Andin terkejut.
"Apa yang terjadi, Nak?"
Andin menggeleng. "Aku tidak tahu, Bu. Sepertinya Mira terkena demam, badannay panas dan dia langsung pingsan begitu sampai di depan pintu."
"Oh, Ya Tuhan. Tolong sembuhkan cucuku." Sementara Ibu Andin berdoa kesembuhan cucunya. Andi berlari ke dapur menyiapkan sebaskom air dan handuk kering.
Sekembalinya Andin, ia langsung mengganti pakaian yang dipakai Mira, anaknya. kebaya kutu dan rok batiknya telah diganti dengan yang baru bersama handuk basah yang berada di keningnya. Kini yang bisa dilakukan keduanya hanya menunggu Mira sadar.
"Aku harap Mira segera sadar, Bu. Aku khawatir sekali begitu melihatnya pingsan tadi. Dia pasti kedinginan di luar." Andin berucap pada Ibunya sambil terisak menangis.
"Sudah, Nak." Ibunya menenangkan Andin dengan memeluknya..
"Harusnya aku tidak menyuruhnya mengambil kayu bakar tadi, Bu." racau Andin di sela tangisnya.
"Jangan salahkan dirimu, Nak."
"Kita berdoa pada Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa pada Mira."
"Ta ... tapi, Bu ... A ... aku takut, ada bekas gigitan di leher Mira."
BERSAMBUNG
***
Note : Akan hadir tiap hari Kamis. See you next part!

Posting Komentar