"A ... ada bekas gigitan di ... di leher Mira, Bu ...," cicit Andin dibawah kungkungan ibunya.
"Panggil tabib desa, sekarang. Mira pasti digigit ulardi Hutan. Cepat!" cerca Ibu Andin memarahi anaknya.
Andin segera pergi memanggil tabib desanya. Sementara Ibu Andin terus menerus secara berulang mengompres dahi Mira yang kini sedingin es dan bibir membiru, metacau tidak jelas juga badannya bergetar.
Tak lama setelah Andin pergi, Seorang tabib desa muncul berikut Andin di belakangnya. Tabib itu dengan telaten memeriksa pasiennya dan menumbuk tanaman-tanaman obat yang nantinya akan diminumkan pada Mira.
"Pak Wiryo, bagaimana keadaan cucu saya? Apa yang terjadi padanya?" tanya Ibu Andin secara beruntun setelah Pak Wiryo—tabib meminumkan ramuan obatnya.
"Apa saya boleh tanya Cucu Nenek habis dari mana?"
"Anak saya habis mengambil kayu bakar dan dia pulang ketika hujan lebat sore ini." Andin yang menjawab.
"Berarti anak Ibu habis dari hutan dan pulang basah kuyup. Tapi dari mana gigitan itu berasal? Itu bukan gigitan ular atau semacamnya. Saya takut bisa itu akan membunuh nyawa anak ibu, karena sudah menyebar kemana-mana." Pak Wiryo mengambil jeda.
"Untuk sekarang kondisinya sedang kritis, saya harap Nenek dan Ibu berdoa pada Yang Maha Kuasa. Semoga Mira bisa melewati masa kritisnya." lanjunya.
Ibu Andin dan Andin menangis terisak mendengar kondisi Mira yang buruk. Mereka berpelukan kemudian berdoa bersama memohon kesembuhan pada Sang Pencipta. Setelahnya, Tabib memohon pamit undur diri setelah memberi obat ramuannya yang disuruh diminum tiap 3 jam sekali. Jika tiga hari Mira masih kritis, ia menyuruh Andin untuk segera memanggilnya lagi.
"Aku harus mencari tanaman-tanaman obat untuk anak Ibu agar bisa itu tidak menyebar kemana-mana. Karena bisa itu sangat berbahaya dan bukan bisa biasa." Itu adalah sederatan kalimat terakhir dari Pak Wiryo, tabib desa sebelum pergi sekaligus pukulan berat bagi dua perempuan ini.
***
Tiga hari berlalu,
Tubuh Mira sudah tak sedingin semalam dan bibirnya juga tak sebiru sebelumnya. Namun, panas dari tubuhnya menyengat dan terus naik turun. Hal itu membuat Andin berserta ibunya khawatir. Karena Mira tak kunjung menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Maka, subuh itu Andin pergi kerumah tabib desanya jaraknya lumayan jauh dari rumahnya. Dengan tergesa ia mengetok pintu rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu lebih tepatnya menggedor-gedor.
"Pak Wiryo! Pak ... Pak Wiryo! ... Pak! Tolong anak saya, anak saya belum juga sadar," ucap Andin setengah berteriak.
Karena saat itu, langit masih gelap dan jalanan desa hanya diterangi lampu templok temaram membuat suasana subuh begitu mencekam di tambah lagi Andin pergi setelah hujan reda. Masih dengan gedoran Andin juga suaranya yang kini berubah menjadi teriakan, rumah Pak Wiryo tak menunjukkan tanda-tanda pemiliknya keluar.
Hingga seseorang berjalan di kegelapan malam bersama gemericik air hujan yang menggenang jalan. Ia berjalan membelah genangan itu. Andin yang masih berada di depan pintu rumah Pak Wiryo menjadi ketakutan. Namun, dengan segenap kekuatan yang ia punya Andin menahan diri untuk tidak kabur dari sana karena Mira sangat membutuhkan pertolongan Pak Wiryo.
"Si ... siapa di sana?" Andin memberanikan diri berteriak. Namun hanya angin dingin yang menjawabnya.
"Ku bilang siapa di sana!" Kini suara Andin berubah menjadi emosi karena merasa dipermainkan. Rasa takut yang sempat ada seolah lenyap begitu saja.
Namun, seseorang itu tiba-tiba ambruk ketanah begitu saja dan bayangan hitam melesat cepat kemudian lenyap masuk ke dalam hutan bersama kegelapan malam. Dan Andin sangat terkejut melihat siapa orang itu karena ia melihat jelas wajahnya saat ia ambruk ke tanah dan terkena sinar lampu templok temaram salah satu rumah tetangga Pak Wiryo.
***
BERSAMBUNG
Bagaimana? Ketegangan semakin bertambah. Stay tuned, ya!
| Sudah baca part sebelumnya? Kalau belum klik gambar! |
Note : Setiap Kamis Sang Penghisap Darah hadir.
See you next time!

Posting Komentar