[CERUBUNG] Sang Penghisap Darah 3


Part 3 : Kalut

Andin berlari kencang menuju rumahnya tak peduli dengan licinnya tanah yang diinjaknya yang membuatnya sering terjatuh. Ucapan Pak Wiryo terus terngiang dikepalanya seolah menjadi mantra kecemasan yang membuat keringat bercucuran di wajahnya sekarang. Takut, cemas dan tegang semuanya campur aduk membuat pikirannya hanya tertuju ke rumahnya lebih tepatnya Mira, anaknya.

Sampai di desanya, Andin tak mengurangi laju larinya hingga kakinya menendang keras pintu rumahnya sampai menimbulkan suara bedebug yang sangat keras. Betapa terkejutnya, ia melihat rumahnya yang hancur berantakan lebihnya lagi saat ibunya terkapar tak berdaya di bawah tempat tidurnya. Darah merah mengalir deras di sekujur tubuhnya.

“IBU!” Andin berteriak kencang dan berlari memeluk ibunya.

“Ibu ... ibu kenapa? Sadarlah ibu ...” Andin mengguncang tubuh ibunya dan mengusap pelan wajah keriput itu.

Terlihat mata Ibu Andin perlahan terbuka dengan sorot mata yang sayu. “Andin ... pergilah ... selamatkan dirimu ...”

“Apa ... apa yang ibu katakan? Dimana Mira?”

“Dan siapa yang melakukan ini pada ibu?” tanya Andin beruntun dengan emosi tertahan dan air matanya sudah turun deras sejak tadi.

“Jangan pikirkan itu, lebih penting adalah nyawamu. Pergi Andin ... selamatkan dirimu ...” Suara Ibu Andin melemah.

“Tidak, katakan padaku siapa yang melakukan ini dan di mana Mira.”

“Tolong pergilah anakku, sebelum Mira ...”

“Sebelum Mira apa ibu ... Mira kenapa?” Ucapan Ibu Andin terputus begitu saja, kepalanya tergolek lemah di pangkuan anaknya sendiri.

“TIDAK. IBU!” Andin terguncang sambil memeluk tubuh ibunya erat.

Dari ekor matanya, ia melihat siapa pelakunya. Pelaku itu melesat cepat ke arah hutan dengan mulut penuh dengan bercak darah. Hal itu memperburuk keadaan, Andin pingsan tak sadarkan diri memeluk jasad ibunya.

***

Siang itu cuacanya berawan dengan matahari tak seterik biasanya. Angin sepoi melambai-lambai membuat selendang tipis berwarna hitam menutup kepala Andin menari pelan. Matanya sembab karena sedari tadi menangis tanpa henti, kehilangan membuat semangatnya disedot oleh kesedihan. Wajah letihnya menandakan ia sangat lelah mengingat ia tidak makan apapun sedari pagi.

“Andin, ayo kita pulang ...” Seorang tetangga rumahnya menyadarkannya dengan meremas bahu Andin pelan.

“Tidak baik, terus bersedih seperti ini. Ibumu akan sedih di sana,” imbuh tetangganya, tapi Andin masih bergeming menatap makam ibunya.

“Ayo ... kita pulang,” ajak tetangganya namun kepala Andin menggeleng pelan. “Aku ingin di sini sebentar lagi. Kamu pulanglah dulu, aku akan menyusul.” Tetangganya itu pun pergi meninggalkan Andin sendirian di samping makam Ibu Asri. Sementara Andin kembali menangis, menangisi nasib buruk yang menimpanya.

“Kau harus membunuhnya. Jika tidak semuanya akan celaka.”

***

B E R S A M B U N G


Share:

Posting Komentar

Copyright © Cerpen Arung. Designed by OddThemes