Part 4 : Tersesat
“Kau harus membunuhnya.
Jika tidak semuanya akan celaka.”
Kalimat itu
terus berputar di dalam kepala Andin. Seolah-olah menghantuinya sepanjang hari
sejak pak Wiryo mengatakannya sebelum dia meninggal. Kini, tak ada lagi tabib
di kampung ini. Banyak warga yang mengaitkan kematian tabib tersebut dengan
ibunya. Karena keduanya meninggal di waktu yang hampir bersamaan.
Andin berjalan ke luar rumah pagi itu, niatnya ingin membeli
sayur di pasar. Baru saja beberapa langkah gunjingan-gunjingan sudah terdengar
di telinganya.
“Dasar pembawa sial.”
“Gara-gara dia tabib tersohor di desa kita meninggal.”
“Pantas, Ibunya meninggal dan anaknya hilang.”
Bak pisau tak kasat mata menusuk jantungnya bertubi-tubi,
Andin tetap berusaha tegar menghadapi penghakiman dari semua warga di desanya.
Meski begitu air matanya tetap saja lolos dan mengalir di pipinya. Pandangannya
menunduk, ia merasa malu dan bersalah. Wanita itu tidak menyangka hidupnya akan
menjadi seperti ini.
Lalu, Seseorang menepuk bahunya tiba-tiba membuat Andin
menghapus air matanya kasar. Kemudian memberi seulas senyum tipis padanya untuk
mengatakan secara tidak langsung ia baik-baik saja.
“Sudah jangan pedulikan. Itu bukan salahmu. Ayo ke pasar
bersamaku,” katanya sambil menarik tangan Andin ke arah salah satu penjaja
sayur mayur.
Seseorang itu tidak lain adalah Maya, tetangga dekat
rumahnya. Hanya dia dan keluarganya yang tidak menghakiminya seperti yang lain.
Setelah berbelanja bersama ke pasar, keduanya pulang beriringan dan tak lepas
dari gunjingan-gunjingan itu.
“Andin, apa aku boleh menginap di rumahmu?” Pertanyaan itu terlontar
dari mulut Maya untuk kesekian kalinya. Meski dirinya tahu Andin akan
menolaknya. Ia tetap menawarkan diri, karena Maya sudah menganggapnya seperti
keluarga sendiri.
Andin tak langsung menjawabnya. Ia menatap Maya lelah
sebelum gelengan menjadi jawabannya. “Aku sudah mengatakanya padamu. Aku ingin
sendirian.”
“Tapi, Aku ingin menemanimu ...” batahnya yang kesekian
kalinya.
“Aku tidak apa-apa, May. Sebaiknya kamu menjaga jarak
denganku. Karena aku tidak ingin kamu terkena kesialan.” Andin berjalan cepat
meninggalkan Maya yang membatu ditempatnya. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan
ini, tapi ini yang terbaik. Karena Maya dan keluarganya sudah membantu telalu
banyak padanya.
Andin menutup pintu gubuknya rapat-rapat. Kemudian menangis
lagi.
“Kamu di mana, Nak? Ibu sangat merindukan kamu. Kembalilah
pulang.”
***
Sore harinya, Andin pergi ke hutan. Ia berusaha mencari
anaknya, Andin yakin Mita berada di hutan. Entah kenapa firasatnya mengatakan
hal itu. Kali ini sudah yang hari ke-5, ia melakukan pencariannya sendiri berbekal
insting dan harapan anaknya bisa ditemukan. Menyedihkan sekali hidupnya, tak
ada satupun orang di desanya yang membantu mencari anaknya. Mereka semua
ketakutan setelah kejadian Pak Wiryo dan Ibunya yang meninggal secara
mengenaskan dengan luka yang sama, yaitu gigitan di leher mereka.
“MITA!”
“MITAAA!”
“Di mana kamu, Nak?”
“Pulanglah ke rumah. Ibu sangat merindukanmu.”
Andin terus berjalan menyusuri hutan tak pantang menyerah.
Hingga matahari meredup ia berbalik berniat pulang ke rumah. Namun, ia tersesat
berputar-putar di titik yang sama setelah ia mencoba berbagai jalur. Matanya
menatap kawasan hutan dengan waspada, hingga ekor matanya menangkap sosok
perempuan yang berjalan menuju ke pedalaman hutan. Andin berniat menghampirinya
namun niat itu menghilang setelah melihat penampakannya yang sangat mengerikan.
Andin segera bersembunyi di semak-semak sambil menutup mulut menahan isak
tangis yang keluar.
.
BERSAMBUNG ...
.png)

Posting Komentar