Part 5 : Air Mata
Andin berjalan
gontai tak tentu arah, air matanya mengalir deras di pipinya. Jiwanya terpukul
dengan kenyataan pahit yang diterimanya. Logikanya terus menolak namun
kenyataan benar-benar mematahkannya. Kini, Andin merasa kecewa pada dirinya
sendiri. Tak bisa menjaga keluarganya dengan baik. Suami? Ia tidak punya. Gelar
yang disandang oleh laki-laki yang dicintainya sudah tidak ada lagi di hatinya.
Setelah apa yang dia perbuat padanya, meninggalkan dirinya juga anaknya sendiri
demi wanita yang lebih cantik darinya. Sudah tidak ada harapan lagi.
Sekarang kakinya melemas. Ia benar-benar tak menyangka kalau
sekarang dirinya sebatang kara di dunia ini.
“Apa yang harus aku lakukan?” gumamnya di atas tanah
berlempung di kelilingi pepohonan besar.
Hujan turun bersama gemuruh di atas sana. Seolah ikut sedih
pada apa yang menimpa Andin. Wajahnya menengadah ke atas merasakan tetes demi
tetes hujan yang membasuh wajahnya yang lelah.
Hutan dalam keadaan gelap hanya sesekali bercahaya saat
kilat terlihat. Andin tidak tahu kalau dirinya berada dalam bahaya sekarang.
Sepasang mata merah mengintainya dari atas pohon tak jauh darinya. Pemilik mata
itu melompat dari dahan ke dahan turun ke tanah tanpa menimbulkan suara
sedikitpun. Andin tak menyadarinya, saat firasatnya mengatakan berbalik dan
kilat terlihat menyala. Matanya membulat.
Sosok perempuan mengerikan yang ia lihat tadi berdiri di
depannya. Perempuan itu menyeringai menampilkan gigi-gigi taringnya yang tajam.
Wajahnya tak asing bagi Andin membuat rasa penyesalan juga kesedihan menyatu
dalam dirinya. Hujan semakin deras dan kilat terus menyala-nyala. Air matanya
tak kentara, rasa takut yang sempat menghampirinya lenyap berganti rasa iba
dari seorang Ibu. Andin menatap sendu perempuan di depannya, membuat kedua mata
mereka beradu.
“Mita ...”
“Kamu Mita anakku,” ucap Andin yakin. Tanpa rasa takut
tangannya terulur hendak mengelus wajahnya sambil berucap, “Apa yang terjadi
padamu, Nak? Katakan pada Ibu.”
Sayang tangannya tak bisa menyentuh wajah anaknya. Karena
seseorang tiba-tiba menarik tangannya kasar ke belakang tubuh seorang pria.
“Dia bukan anakmu!” sentak pria itu menyadarkan Andin.
Andin mengerjapkan mata di depannya ia melihat pria itu
bertarung dengan perempuan mengerikan yang mirip dengan anaknya. Pria itu
membawa pedang ditangannya yang digunakan untuk bertarung melawan mahluk itu.
Saat kilat menyala wajah dari pria itu terlihat. Andin langsung menyadari pria
itu bukan berasal dari desanya. Ia tak pernah sekalipun melihatnya.
Tiba-tiba Pria itu berteriak lantang. “Lari sekarang juga!”
Seketika Andin menyadari ada bahaya yang menghadangnya, ia
segera berlari. Melihat pria itu kewalahan melawan mahluk itu tadi. Pria itu
juga berlari di belakangnya sambil terus bertarung menahan mahluk itu.
Dalam hati Andin, “Jika
itu bukan anaknya. Lalu mahluk apa itu dan kenapa wajanya seperti anakku?”
.png)

Posting Komentar