Perkenalkan, namaku, Rhea, Si Gadis pendek yang sedikit pemarah. Di usiaku yang ke-10 tahun perasaan tidak diterima di lingkungan semakin menjadi. Aku tidak tahu kenapa orang-orang disekitarku sangat membenciku dan menjauhiku. Aku tidak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat pada mereka. Tapi, ada satu hal yang membuatku mampu mengerti tentang semuanya. Inilah kisahku …
***
Di kamar kontrakan yang berukuran 3x3 meter dengan satu jendela kecil dan dua lubang udara. Cahaya redup lampu kecil di tengah langit-langit tak mampu menerangi seluruh ruangan dan menyisakan sudut-sudut terpencil dengan cahaya remang-remang. Mataku tengah menatap sendu langit-langit kamar yang berselimut cahaya kuning dari lampu, di beberapa tempat ada lubang-lubang hitam yang menghias di sana. Pikiranku melayang entah kemana. Semuanya kacau dan tak beraturan. Begitu banyak peristiwa yang terjadi hari ini.
Di luar, hujan turun deras entah sejak kapan langit menumpahkan semua bebannya. Tak biasanya, tubuhku selelah ini. Badanku enggan beranjak. Padahal, aku tak melakukan banyak pekerjaan berat selain mengurus rumah. Masih terngiang jelas bagaimana paman dan bibiku bertengkar hal yang sama—entah yang sudah keberapa kalinya ini—kalau bukan aku yang menjadi alasan mereka bertengkar.
"Apa yang kau lakukan, Hah!" Bibi berteriak marah sambil mendorong Paman yang melindungiku dari amukannya.
"Kenapa kau begitu peduli dengan anak pungut itu dibanding kami!" bentaknya lagi namun Paman diam saja. Sementara aku bergetar di belakang punggung lebar pamanku.
"Seharusnya kau titipkan saja dia di panti asuhan dulu kalau jadinya begini." ujarnya sambil bercucuran air mata.
Aku yang sudah mendengar ribuan kali kalimat itu pun tak ayal merasa sakit juga. Dan tak menyangka air mataku luruh begitu saja. Paman yang mendengarku isak tangis pun akhirnya angkat bicara.
"Tutup mulutmu itu Sarah!"
"Dia anak dari kakakku dan kamu tidak berhak menghakiminya karena masalah kita sekarang!"
Paman selalu seperti itu, selalu membelaku. Dan karena hal itu, Bibi dan juga sepupuku semakin membenciku. Entah apa yang salah dari diriku, aku tak pernah tahu. Seringkali aku berbagi banyak hal, menuruti apa kemauan mereka dan berusaha menjalin hubungan baik dengan mereka. Tapi apa? Semua sia-sia dan aku masih tak diterima oleh mereka.
Saat ini yang bisa ku lakukan hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan buram. Lalu, Air bening itu mengalir lagi tanpa bisa kucegah. Rasanya sesak berada di lingkungan keras seperti ini, apalagi aku sendirian.
"... Aku kangen Ayah sama Ibu ...," kataku tak kuasa menahan semuanya.
"Di sini nggak ada yang mau sama aku ...," ucapku pada akhirnya. Aku memeluk gulingku sambil sesegukan menangis.
Pada akhirnya malam ini aku menangis semalaman sampai tertidur. Aku tak punya pilihan lagi. Besok, aku sudah tidak ada di sini lagi.
-TAMAT-
Sumber : https://pixabay.com/id/photos/hujan-jendela-titisan-hujan-air-6243559/

Posting Komentar