Aku Memilihmu

Aku Memilihmu


Aku, Aisyah. Seorang mahasiswa tingkat akhir fakultas teknik di salah satu kampus ternama di Yogyakarta. Saat ini aku sedang menyelesaikan skripsiku. Kalian bisa membayangkan betapa sibuknya aku setiap hari bahkan aku sering bolak-balik perpustakaan untuk mencari referensi. Namun, semalam tiba-tiba Ibu menelponku dari rumah. Ia menyuruhku untuk pulang, padahal baru saja satu minggu yang lalu aku pulang. Ketika aku bertanya ada apa seperti biasa ibu menjawab dengan suara tegasnya.

“Kamu pulang saja, besok. Ibu tidak bisa menjelaskannya lewat telepon.”

Dan aku mengiyakannya saja, tak ingin bertanya lagi khawatir membuat ibu marah. Kini aku sedang dalam perjalanan pulang dan Firasatku tidak enak. Pikiranku sudah bercabang ke mana-mana, aku kepikiran keluargaku di rumah.

‘Apa jangan-jangan terjadi sesuatu, ya?’

‘Rasa ibu sehat-sehat saja ditelepon. Apa ada hal lain?’

‘semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk.’

“Tuuuuuuuuttttt!”

Suara kereta api berhasil membuyarkan lamunanku. Ternyata sudah sampai.

Aku bangkit dan mengambil barang-barangku, aku menghela nafas sejenak menghilangkan kekhawatiranku. Aku teringat dengan ucapan ustadzku di kampus.

“Ingat, nak. Berburuk sangka itu tidak baik.”

Dengan mengucapkan basmallah dan aku melangkahkan kaki, turun dari kereta. “Bissmillahirrahmanirrahim...

***

“Ramai sekali, dimana kakakku? Katanya mau menjemputku di stasiun kok belum datang,” kataku kesal karena keluar sambil berdesak-desakan dengan para penumpang lain.

Aku mencoba menelpon kakakku lagi namun tak diangkatnya. Padahal sebelum berangkat ia mengatakan akan menjemputku lewat telepon. Ah sudahlah... Mungkin macet, pikirku. Karena lelah sehabis perjalanan yang cukup menguras tenaga, aku memutuskan untuk duduk di kursi yang disediakan. Saat tengah menunggu aku membuka handphone dan berselancar di media sosial milikku sekedar melihat-lihat postingan teman-teman. Aku yang terlalu asyik dengan keagitanku tak menyadari ada orang lain. Seseorang itu menepuk bahuku agak keras. Aku tersentak kaget dan langsung melihat orang yang tidak tahu sopan santun itu. ‘Seenaknya menepuk bahu orang,’ batinku.

Aku yang awalnya ingin memarahi orang tidak sopan itu bungkam, mulutku seakan terkunci saat melihat siapa yang kumaksud itu. Seorang laki-laki berdiri tepat di hadapanku usianya kira-kira 27 tahun, tubuhnya jangkung dan punggungnya lebar. Ia memakai kemeja merah maroon yang dipadu dengan celana bahan berwarna hitam, garis wajahnya tegas dan tengah tersenyum ke arahku.

“Pa—Pak Reza?” ucapku begitu tersadar dan bangun dari dudukku.

Aku terkejut sekaligus bingung melihat dosen yang mengajar di fakultasku ada di sini. Ada urusan apa? Setahuku dosen itu bukanlah berasal dari sini. Apa mungkin tugasku ada yang belum selesai, seingatku tidak ada.

“Assalamualaikum, Aisyah... ” salamnya masih dengan senyum.

Aku tersentak lupa dengan sopan santunku. “Ehh, Pak. Wa—Waalaikumsalam... Maafkan saya pak, saya terlalu terkejut tadi.”

“Tidak apa,” jawabnya santai.

“Kita kan tidak sedang di kampus,” lanjutnya.

“Apa tugas saya ada yang belum, Pak?” tanyaku ragu mungkin saja ia ingin menagih tugasku dengan langsung menemuiku.

“Tugas kamu sudah lengkap,” jawabnya sambil menatapku lekat.

Aku yang ditatap seperti itu langsung mengalihkan perhatianku seolah mencari keberadaan kakakku yang entah dimana. “Lalu, Bapak sedang menunggu siapa?”

“Saya sedang menunggu calon istri saya, lalu kamu sendiri sedang apa?” ucapnya yang masih menatapku lekat.

“Ohh... Saya sedang menunggu kakak yang mau menjemput saya pulang,” jawabku.

“Kamu mau pulang? Ayo saya antar,” tawarnya cepat.

Aku menatap Pak Reza tak percaya, seorang dosen mau mengantar mahasiswanya pulang? Tidak mungkin.

“Eh... Pa—Pak tidak usah. Bapak kan sedang menunggu calon istri Bapak,” tolakku buru-buru.

“Calon istri saya sudah di depan saya.” Aku dibuatnya terkejut kesekian kalinya.

“A—Apa Pak? dimana?” tanyaku sambil melihat ke belakang dan ke arah kanan kiriku tapi tidak ada siapa pun yang ada hanya orang ramai berlalu lalang.

Pak Reza mengerutkan keningnya membuatku semakin bingung. “Kamu tidak paham yah... Ya sudah ayo saya antar pulang,” ucapnya tegas sambil mengambil barangku yang ku tinggal di kursi tunggu.

“Eh... Pak. Tidak usah sebentar lagi kakak saya datang.” Aku menolaknya lagi.

“Kamu itu susah yah kalo dibilangin. Apa kamu rugi diantar pulang sama calon suami kamu?”

Seakan ada petir yang menyambar di siang bolong, aku sangat terkejut. ‘A—Apa dia bilang?’

“Ehm... Maaf, Pak. Apa saya salah dengar ya?” tanyaku hati-hati. Tidak mungkinlah aku calon istrinya, walaupun aku tahu Pak Reza memang masih single.

Kini Pak Reza menatapku semakin lekat dan langkahnya semakin dekat ke arahku.

“Kamu tidak salah dengar kok,” ucapnya tepat di telingaku.

Aku menjauhkan tubuhku darinya. “Tidak, pak. Mungkin Bapak salah orang.”

“Calon istri saya memang ada di depan saya. Dan orang yang saya pilih itu kamu, Aisyah.”

Aku yang mendengar penuturannya tak bisa berkata-kata lagi. Entah aku harus bahagia atau tidak. Aku menangis haru dan bersyukur bisa dipertemukan laki-laki sepertinya. Pak Reza adalah orang yang baik, ia bertanggung jawab dan juga menghormati perempuan. Dalam hati aku mengucapkan syukur kepada Allah atas dipertemukannya aku dengan seseorang seperti Pak Reza.

-TAMAT-


Share:

Posting Komentar

Copyright © Cerpen Arung. Designed by OddThemes