Elegi Senja

Malam ini,  semua terasa sangat sunyi tak ada suara apa pun, selain ketikan jariku yang menari di atas keyboard. Aku duduk di kursi dengan mata yang terus bolak balik menatap layar putih yang menampilkan sejumlah kalimat. Aku berniat menuliskan sebuah Kisah khayalku, yang artinya ini tidak benar-benar terjadi dan hanya karanganku saja. Mari kita mulai.

***
Senjakala 


Saat itu, di sebuah pantai berwarna jingga kemerahan dengan bulatan merah di ufuk barat, di pinggir pantainya seorang duduk di sana tengah memandangi senja di kala itu. Sendirian. Seseorang itu berambut sebahu dengan wajah oval dan manik matanya yang coklat terang berpendar cahaya jingga di depannya. Seulas senyum terbit di wajahnya, kala seekor burung terbang di atasnya membuat pipinya terangkat sementara matanya menyipit membentuk garis. Manis, kata yang tepat untuk menjelaskan bagaimana rupanya. Sayang, senyum itu tak bertahan lama karena seseorang datang dari arah belakangnya dan duduk di sampingnya. Kini kepalanya menoleh ke samping memandang laki-laki yang wajahnya tak jauh berbeda dengannya, hanya umur mereka saja yang membedakan.

"Kenapa, hm?" tanya laki-laki itu pada perempuan di sampingnya, yang tidak lain adiknya.

Perempuan itu menggeleng kemudian menjawab, "Tidak apa ... hanya menikmati waktu saja."

"Yang benar?" Perempuan itu menangguk mantap.

"Ini bukan karena kejadian tadi siang 'kan?" Laki-laki itu bertanya membuat kerutan kening di wajah manis perempuan itu, yang pura-pura tidak mengerti. "Apa?"

"Itu, Kau-ah sudahlah-ayo kita masuk. Kau akan kedinginan, jika di sini terus." Perempuan itu menggeleng sebagai tanda tidak setuju dengan ajakan kakak laki-lakinya. "Aku ingin tetap di sini."

"Oke, baiklah ... Jangan lama-lama." Laki-laki itu memperingati yang di jawab anggukan adik perempuannya. Lalu beranjak pergi meninggalkan perempuan itu sendirian lagi.

Sepeninggalnya, perempuan itu memeluk lututnya sendiri, mengecilkan tubuhnya. Dan tak lama setelahnya genangan air tiba-tiba keluar deras tanpa ada isak yang keluar dari mulut kecilnya. Ia membiarkannya mengalir sendirinya. Seolah membiarkannya seperti itu. Karena air di depannya mengajarkan sesuatu. Tentang cara menerima. Melepas semua beban yang ada, membuatnya menjadi apa adanya. Bukan menyimpan atau memendamnya bahkan menahannya yang membuat luka yang dipunya semakin dalam dan kelam.

Note : Terinspirasi dari Film "Avatar : The Last Airbender" tentang Air


Share:

Posting Komentar

Copyright © Cerpen Arung. Designed by OddThemes