[NOT] MY TASK


Created by Me on PicsKit


Matahari terbit di ufuk timur, cahaya jingganya tersebar ke cakrawala, bercampur  biru dan kelabu. Kokokan ayam terdengar lantang di pekarangan rumah saling sahut menyahut.

Rudi sudah bangun sejak subuh tadi. Setelah menunaikan shalat subuh, ia tak lekas tidur lagi melainkan pergi ke dapur, untuk membantu ibunya memasak. Dan disinilah ia berada, tengah memotong bawang, cabai juga tomat untuk bumbu masakan ibunya.

"Rudi, masukan bawang, cabainya dulu. Tomat terakhiran, aja." Ujar Ibu pada Rudi.

"Iya, Bu." Rudi pun memasukan sesuai yang diperintahkan. Ia memasukan irisan bawang dan cabai bersamaan kemudian menguleknya setelahnya ia masukan tomat dan menguleknya lagi.

"Sudah, Rudi?" Rudi mengangguk seraya tersenyum memperlihatkan hasil karya ulekannya yang belepotan kemana-mana.

Ibunya tersenyum maklum kemudian mengelus kepala putranya dengan sayang. "Ya, sudah … Kamu mandi sana. Kamu 'kan mau sekolah." Katanya mengingatkan anaknya dengan sekolah. Namun, Rudi terdiam kemudian menggeleng pelan.

"Kenapa? Libur?" tanya Ibunya namun Rudi malah menunduk enggan menjawab.

"Kalau memang libur tidak apa-apa. Kamu bisa bantuin Ibu masak sampai selesai. Jadi, tidak usah murung seperti itu." Ujar Ibunya lembut. Tapi Rudi malah memeluk ibunya dan bergumam tidak jelas.

"Mau cerita?" tawar ibunya. Rudi menggeleng lagi. Ia enggan untuk menceritakan masalahnya.

"Ya, sudah … Tidak papa." Ibunya mengelus punggung anak lelakinya. Lalu melepasnya perlahan. "Sekarang, mending kamu pergi mandi lalu turun ketika sarapan sudah siap, ya?" ucap Ibunya tepat di manik mata putranya.

Rudi mengangguk.

"Kalau gitu, Rudi ke kamar dulu." Pamitnya pada ibunya kemudian pergi dengan wajah masam. Sedangkan Ibu menatap sendu punggung putranya yang mungkin memiliki masalah di sekolahnya.

***

Rudi menutup pintu kamarnya pelan, kemudian mulai merebahkan tubuhnya di kasur bergambar spiderman. Usianya memang sudah menginjak usia remaja namun itu tidak membuatnya merasa malu karena kesukaannya terhadap kartun laba-laba itu. Ia pun memejamkan mata sebentar, mengingat kembali masalah yang tengah dihadapinya.

"Rud, jangan lupa, ya. Tugas makalah kamu yang kerjain." Ucap Eza, teman kelompoknya.

"Iya ... besok dikumpulkan." Alan ikut menyahut.

Sedangkan Sadam tengah sibuk mengotak-atik handphone mahalnya. "Oh, iya! Aku udah kirim juga materi-materi yang kamu perlukan. Good luck, ya!" katanya sambil merangkul bahu Rudi untuk pulang bersama-sama.

Ia mengangguk pasrah yang disertai senyuman kecil di wajahnya. Keterpaksaan membuatnya mengiyakan saja, sebab tak ada lagi yang mau mengerjakannya selain dirinya. 

"Haah … Males." Ucapnya sambil memandangi makalah berwarna merah yang berjudul 'Pertumbuhan dan Perkembangan Kacang hijau (Perkecambahan)'

"CK! Hari ini lagi." Makinya kesal.

"Ugh! Dah lah. Bodo amat!" Rudi mengacak rambutnya frustasi lalu berjalan menuju kamar mandinya.

Sekitar 15 menit, Rudi pun keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Kemudian bersiap memakai pakaian sekolahnya. Baju putih dan celana biru tua tak lupa dengan dasinya. Saat hendak memakai dasinya, Ibu berteriak dari bawah.

"Rudi, ayo sarapan!"

"Iya, Bu. Sebentar!" balas Rudi tak kalah berteriak. Ia pun segera mempercepat gerakan tangannya. Lalu segera mengambil tas dan tak lupa memasukkan makalah merahnya yang di atas meja. Kemudian bergegas keluar kamar menuju meja makan.

"Pagi, Ibu … Ayah …" sapa Rudi pada kedua orang tuanya.

Ibunya tersenyum sambil menata sarapan untuk mereka. Sedangkan Ayahnya segera menutup koran paginya. Terlihat Ayah sudah rapi memakai setelan jas kantornya.

"Pagi juga, Nak. Ayo sarapan!

"Hari ini, Ayah bisa mengantarmu ke sekolah." Katanya dengan raut senang.

Rudi langsung tersenyum sumringah. "Oke, Ayah!"

"Sekarang sudah tidak murung lagi?" Ibu melirik anak lelakinya yang kini telah siap bersekolah.

"Hehe, ngga lagi dong, Bu …" sahut Rudi sambil terkekeh.

"Oh, ya! Hari ini kamu sapa Ibu dua kali, lho." katanya tergelak.

"Iya, kah, bu? Aku lupa. Hehe," Rudi pun tergelak begitu pula dengan Ayahnya.

Setelahnya, tidak ada pembicaraan lagi. Mereka sibuk dengan sarapan masing-masing. Hingga Ayah mulai bicara lagi di sela sarapan mereka. 

"Nanti, weekend kita akan jalan-jalan. Sudah lama Ayah ingin jalan-jalan." Mendengar itu manik cokelat Rudi langsung berbinar senang. "Ke mana Ayah?"

"Kamu maunya ke mana?" Ayah balas bertanya. Sementara Rudi terdiam, ia berpikir keras mencari tempat yang cocok untuk mereka kunjungi.

"Emm, Gimana kalau ke Lembah Hijau?"

"Kata orang-orang di sana tempatnya bagus, sejuk dan eksotis banget, Yah … Kita juga bisa melihat sunset dari atas bukitnya." tutur Rudi bersemangat membuat wajahnya bersinar dan tidak ada lagi wajah masam di sana.

Ibunya tersenyum bahagia melihat senyum cerah di wajah anak laki-lakinya. "Ya sudah, kita pergi ke sana, saja. Ibu juga penasaran, soalnya tentangga kita juga pernah ke sana."

"Oh ya?" respons Ayah terkejut.

"Kalau gitu hari minggu kita akan ke sana dan bermain seharian." Ujarnya ikut bersemangat.

Kini suasana pagi mereka terasa hangat dan membuat Rudi sejenak melupakan kekesalannya terhadap teman-temannya.

***

Di sekolah, Rudi melangkah riang seolah kakinya terasa ringan dan bibirnya tak henti-hentinya tersenyum ketika terus mengingat rencana liburan mereka di weekend nanti. Ia tak sabar menantikannya.

Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya keras, yang berhasil membuat senyum di wajahnya hilang dalam sekejap.

"Hei, Rud! Sepertinya kamu sedang senang. Ada apa?" tanya Sadam yang tiba-tiba datang.

"Bukan apa-apa." Rudi menjawab datar.

"Oh, oke!" sahutnya kemudian berlalu lebih dulu.

'Dasar! Bikin mood orang hilang!' maki Rudi dalam hati. Kemudian berjalan menyusul, karena kelas mereka sama.

Kini bel masuk sudah berbunyi, pelajaran pertama dan kedua berjalan lancar tanpa hambatan. Dan tak beberapa lama lagi, bel istirahat berbunyi.

KRING ...

Semua siswa tak terkecuali Rudi ikut berhamburan keluar kelas menuju tempat pengistirahatan, karena otak mereka yang berasap butuh dipadamkan dengan makanan. Sebab, dua jam tadi mereka difokuskan dengan deretan angka dan huruf 'x' dan 'y'.

"Rud, ayo makan di sini!" seru Eza dari mejanya. Suaranya terdengar lantang dan sedikit nyaring mampu mengalahkan kebisingan kantin yang penuh sesak.

Rudi menoleh, celingukan mencari siapa gerangan yang memanggilnya hingga lambaian tangan seseorang membuat ia dapat melihatnya. "Ayo, sini!" serunya lagi. Rudi pun berjalan ke tempat Eza berada, lalu duduk bergabung bersama Sadam dan Alan yang sudah ada lebih dulu.

"Wah, kenapa setiap istirahat kamu selalu membeli siomay. Aku tak pernah lihat kamu makan selain itu." Tanya Alan pada Rudi yang baru saja makan beberapa sendok. Ia merasa heran dengan menu Rudi yang itu-itu saja.

Rudi tersenyum kecil. "Bukan karena apa-apa. Aku hanya lebih suka ini." Alan mengangguk mengerti. Lalu melanjutkan makannya begitu pula dengan Rudi.

Setelah Rudi selesai makan dan kini tengah menikmati es teh manisnya. Sementara teman-temannya asyik makan snack, yang saat itu sedang  menatapnya intens. Ia yang ditatap seperti itu merasa tidak nyaman dan akhirnya memilih bertanya.

"Ke-kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Rudi pada mereka.

"Kamu sudah menyelesaikan tugas makalahnya, 'kan?" tanya sadam.

Rudi menghela napas lega kemudian mengangguk singkat. "Kenapa?" Rudi balas bertanya.

Eza menggeleng. "Tidak apa-apa. Kita hanya memastikan saja."

"Kalau gitu, kita ke kelas dulu. Kamu mau ikut?" Rudi mengangguk. Mereka pun berjalan bersama menuju kelas mereka yang berada di lantai atas.

***

Kini, Jam Istirahat telah usai, semua teman-teman sekelas Rudi mulai sibuk mengemasi buku dan alat tulis mereka. Hari ini mereka kebagian belajar di Lab Biologi yang ada di lantai bawah. Semua teman-teman sekelasnya sudah pergi ke sana, hanya Rudi dan beberapa temannya yang masih menetap, dengan kesibukan masing-masing.

Rudi tengah memberesi sampah-sampah plastik bekas makanan, yang berserakan di mejanya lalu membuangnya ke tong sampah yang ada di luar kelas.

"Kenapa aku yang harus membuangnya? Padahal aku tak serakus ini untuk makan." Ia menatap sampah-sampah itu dengan perasaan dongkol. Bagaimana tidak kesal, teman-temannya itu sering dan sengaja melakukannya. Entah tujuannya untuk apa.

Baru saja Rudi hendak berbalik, Alan tiba-tiba datang dan tanpa di duga bahunya menabrak bahu Rudi keras dan membuatnya terjatuh.

"Oh, Sorry! Aku nggak sengaja." Kata Alan meminta maaf lalu pergi begitu saja, meninggalkan Rudi yang terduduk di lantai sambil memegangi bahunya.

Rudi menatap punggung temannya kesal, sambil beranjak berdiri kemudian memasuki kelas yang sudah sepi. Kini tugas makalah kelompoknya berada di tangannya, tiba-tiba ide gila muncul di otaknya membuat senyuman miring hadir di wajahnya.

***

Di Laboratorium Biologi,


Eza, Alan dan Sadam memasang wajah tegang di bangku mereka. Mereka tengah menunggu dengan cemas, akan kehadiran seseorang yang menyelamatkan mereka dari pertanyaan Pak Karto yang tengah berkeliling, memeriksa hasil tugas mereka. Namun, orang yang ditunggu tak kunjung datang. Padahal, jarak Pak Karto dengan meja mereka hanya beberapa langkah saja.

Mereka bertiga hanya bisa saling pandang dan menelan saliva sendiri. Mereka tak bisa keluar seenaknya di jam Pak Karto, si Guru Killer.

"Duh, dimana, sih! Si Rudi, kok ngga dateng-dateng?" Sadam bertanya sambil berbisik.

"Aku nggak tahu. Aku ke sini duluan." Bela Eza.

"Tadi, aku liat lagi buang sampah di depan kelas. Setelah itu aku ngga tahu dia kemana." Sahut Alan gelisah.

Sementara, Pak Karto kini tengah berjalan ke arah mereka. Mereka semakin panik dan kelimpungan.

"Mana, hasil makalah kalian?" pinta Pak Karto sambil menatap ketiga wajah muridnya yang pucat pasi.

"Dimana Rudi?" tanyanya heran menyadari salah satu muridnya hilang.

"Aa … anu … Pak …" Eza hendak menjawab namun suaranya tergagap karena tidak tahu keberadaan teman satunya itu.

Namun, itu tidak bertahan lama. Karena orang yang mereka cari ada di ambang pintu.

"Saya di sini, Pak." Semua orang menatapnya.

Rudi datang membawa tugas makalah mereka tepat waktu, layaknya seorang pahlawan yang telah menyelamatkan nyawa mereka saat itu juga.

Namun, sejurus kemudian Rudi mengangkat tugas makalahnya sambil berkata, "Pak, ini tugas yang dikerjakan sendiri. Bukan berkelompok." Kemudian merobeknya menjadi dua di hadapan semua orang tak terkecuali ketiga temannya yang syok.

"Maka dari itu, ini bukan tugas saya saja, melainkan bersama." Tuturnya terus terang.

-TAMAT-


Cilegon, 28 Agustus 21

Note : Gimana? Cukup panjang bukan ceritanya? Akhirnya aku bisa buat cerpen juga huhu … Thanks kawan dah baca cerita-cerita di blog aku :)) see you next!


Share:

Posting Komentar

Copyright © Cerpen Arung. Designed by OddThemes