Hilangnya Gantungan Kunci Milik Bobi


Kisah ini dimulai dengan seorang anak laki-laki bernama Bobi. Ia adalah anak yang selalu bersikap seenaknya. Tidak sekali atau dua kali kelakuannya membuat teman-temannya kesal. Salah satunya, meminjam barang tanpa izin pemiliknya.

Suatu hari, Bobi kehilangan barang kesayangannya, yaitu sebuah gantungan kunci karakter yang beredisi terbatas. Ia baru saja membelinya minggu lalu dengan uang tabungannya sendiri. Dan gantungan kunci itu hilang, setelah ia bawa ke sekolah. Ia pun sudah bersusah payah mencarinya di rumah bahkan di sekolah, namun tak kunjung ketemu juga. Semua teman, sahabat dan orang tuanya pun sudah ia tanyakan. Tapi mereka tidak melihatnya. Bobi menjadi sedih dan murung. Bahkan sudah satu minggu berlalu, anak laki-laki itu masih murung.

Kiko, Fajar dan Mira adalah sahabat Bobi. Melihat sahabat mereka selalu murung karena sebuah gantungan kunci, mereka jadi ikut bersedih. Padahal, mereka juga sudah membantu mencari namun hasilnya sama. Mereka tidak menemukan gantungan kunci itu. Akhirnya, Kiko menghampiri Bobi di jam istirahat kala itu.

"Bob," panggil Kiko.

Bobi yang merasa dipanggil pun menoleh, melihat sahabatnya yang datang lagi. "Aku nggak papa, kok ..." ucapnya berusaha baik-baik saja.

"Nggak papa apanya? kamu masih murung cuma gara-gara gantungan itu. Kamu bisa beli lagi." Bobi tidak langsung menjawab melainkan memberikan senyuman kecut pada sahabatnya.

"Beli lagi, dimana? Hongkong? Itu tuh edisi terbatas dan sekarang udah ngga ada lagi ... Kamu ngerti ngga, si? Susah payah aku ngumpulin uang." Cerca Bobi kesal pada sahabatnya.

"Bukan gitu, Bob. Aku, capek liat kamu sedih dan murung gini, bahkan kamu menjauh dari kita." Balas Kiko merasa jengkel dengan sikap sahabatnya itu. 

"Kalau kamu capek, nggak usah liat. Udah, sana ..."

Kiko menatap Bobi tak percaya, sahabatnya itu mengusirnya. Seolah-olah dirinya tidak berguna begitu juga sahabat lainnya. "Bob, kita ada buat kamu. Kamu jangan seolah-olah menjauh dari kita. Aku sahabat kamu, begitu juga Fajar dan Mira!" Ucap Kiko frustasi namun Bobi menghiraukannya, Sahabatnya itu masih belum menerima kenyataan kalau gantungan kuncinya benar-benar hilang.

***

"Kita harus bagaimana lagi?" tanya Kiko frustasi.

Mira menggeleng, ia juga sama frustasinya dengan Kiko.

"Kita jangan menyerah gitu, aja." Ujar Fajar menyemangati kedua sahabatnya.

"Kalau gitu, kita mencarinya lagi?" tanya Kiko yang diangguki sahabatnya.

"Kalian masih ingat? Pemilik barang yang dipinjam Bobi terakhir kali?" tanya Fajar tiba-tiba, membuat secercah cahaya di mata kedua sahabatnya bersinar.

"Kita akan ke rumahnya sekarang. Bawa Bobi juga. Aku ingin memastikan sesuatu." Keduanya mengangguk mantap dan segera mengajak Bobi yang belum keluar dari kelas.

Sekarang Kiko, Fajar dan Mira tengah berkumpul di gardu dekat sekolah mereka. Mereka tengah merunding tentang masalah sahabat mereka, Bobi.

***

Sekarang Bobi, Fajar, Kiko dan Mira sudah berkumpul di depan sebuah rumah yang letaknya tak jauh dari sekolah mereka. Rumah yang berdiri kokoh dan berlantai dua itu memiliki nomor rumah 45. Rumah yang tampak asri karena disekitarnya ditanami tanaman-tanaman hias juga sebuah pohon besar yang menjulang di sisi rumah. 

TING DONG ... TING DONG ... TING DONG

Bel pintu berbunyi sebanyak 3 kali, tapi tak ada sahutan dari sang pemilik rumah. Baru saja Fajar hendak menekan belnya lagi, namun seseorang muncul dari balik pintu. Seorang anak perempuan yang masih memakai seragam sekolahnya. Seragam sekolah yang persis dengan yang mereka pakai.

Anak perempuan itu terkejut, melihat keempat temannya yang tiba-tiba datang. Ia segera menyilakan mereka masuk dan menyuguhkan minuman juga beberapa cemilan. Tanpa basa-basi lagi anak perempuan itu langsung bertanya tentang kedatangan mereka ke rumahnya. 

"Ada apa?"

Fajar tiba-tiba berdehem, ia hendak bicara. "Ada yang perlu kami tanyakan padamu. Karena hanya kamu yang bisa menjawabnya, Pita." Anak perempuan itu ternyata bernama Pita.

"Aku melihatmu mengambil sesuatu di jalan, selepas pulang sekolah sebelum Bobi kehilangan gantungan kuncinya. Apa yang kamu ambil itu?" tanya Fajar membuat semua orang terhenyak tak terkecuali Bobi yang kini menatap Fajar dan Pita bergantian.

Pita tak langsung menjawab, karena anak perempuan itu diserang kegugupan luar biasa. "Aa ... aku tidak mengambilnya. Aku menemukannya." Bela Pita gelagapan.

"Aku tidak menanyakan itu. Aku tanya, Benda apa yang kamu ambil minggu lalu?" tanya Fajar semakin jelas pada Pita yang kini diam saja dan menunduk.

Bobi yang ada di sana hanya bisa diam, memerhatikan. Ia tidak mau menyalahkan orang lain sebelum dirinya tahu benda apa yang diambil oleh Pita. Meski, pikirannya sudah kemana-mana.

"Aa … Aku … menemukan gantungan kunci milik Bobi terjatuh di jalan, selepas pulang sekolah." Jawab Pita masih dengan menunduk, ia malu mengakuinya.

Bobi menatap Pita tak percaya, seorang anak perempuan yang paling diam di sekolahnya ternyata yang menyembunyikannya. "Kamu menyembunyikannya, kenapa?" Bobi langsung bersuara dan membuat Pita semakin merasa bersalah.

"Aku ... tidak bermaksud untuk menyembunyikannya. Aku hanya ingin memberi pelajaran padamu, Bobi. Agar kamu merasakan bagaimana kehilangan barang kesayangan, karena diambil orang lain tanpa izin. Tapi, aku tidak mengambilnya melainkan menemukannya, lalu kusimpan dengan baik. Itu karena kesalahanmu sendiri yang teledor." tutur Pita panjang kali lebar.

Bobi terdiam, ia tidak bisa menyalahkan siapapun di sini. Ini adalah salahnya yang tidak menyimpan barangnya dengan baik. "Maaf ... soal kelakuan burukku dan terima kasih sudah mengingatkan.  Sekarang aku tahu bagaimana rasanya kehilangan barang. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi pada siapapun termasuk kamu juga." Pita tersenyum seraya mengangguk begitu juga Fajar, Kiko dan Mira yang tersenyum bahagia melihat temannya yang mau berubah.

Kini gantungan kunci itu telah kembali ke pemiliknya lagi. Dan mulai sekarang Bobi tidak murung lagi. Bahkan ia juga sudah sering meminta izin pada pemiliknya sebelum meminjam barang.


-TAMAT-

Cilegon, 31 Agustus 21

Share:

Posting Komentar

Copyright © Cerpen Arung. Designed by OddThemes