Mendung

Hari ini semesta membuatku jengkel. Dengan segala hal yang menuntutku harus seperti dia, "si Orang Lain". Kusebut saja Manusia.
 
Manusia itu selalu dielu-elukan, seperti ini. "Dia itu hebat suaranya, bagus. kau seharusnya kayak dia.
"Ada lagi, "Eh si Manusia bisa buat karya bagus. kau harus tiru dia, biar ketularan."
Yang lain, "Kau itu kenapa biasa saja. Kapan kau bisa luar biasa kayak Manusia?" Lagi-lagi Manusia, manusia sampai kupingku terasa kebas mendengar namanya. Sebal, rasanya.
Aku itu tidak suka dibedakan! Ingat itu. Aku juga paling tidak suka meniru orang lain dan dipaksa sama sepertinya. Aku punya prinsip sendiri.
 
Asal kau tahu saja, apa yang dilakukan Manusia itu telah menyakiti Bumi, sahabatku. Dia mencabik-cabiknya sampai membuatnya menjerit kesakitan. Petir, sahabatku yang lain sampai marah dan menyabar apa saja. Dan aku tidak mau kalah, ikut menurunkan semua bebanku. Agar Manusia itu tahu rasa. Hujan badai akan memberinya kesadaran, karena dia telah menyakiti Bumiku.
Siapa aku? Kurasa sudah jelas, semua orang mengenalku. Aku adalah anggota semesta.
Share:

Posting Komentar

Copyright © Cerpen Arung. Designed by OddThemes