Ketika hari semakin terik dan udara semakin panas. Aku berhadapan dengan beberapa manusia. Kami saling bercengkrama dan suap menyuap ke mulut masing-masing, memasukkan makanan yang terdiri dari tahu, ketupat, dan toge yang dilumuri saus kacang dan kerupuk sebagai pelengkap.
Tak ada bahasan spesial antara kami kala itu. Kami hanya menghabiskan makanan kami bersama, menikmati masa-masa terakhir sebelum libur yang memanjakan. Aku paling banyak dengar di banding bicara tak tahu siapa, hanya sesekali menanggapi bila memang perlu. Cakapku memang tak sepandai mereka yang tahu segala isi kampung yang kutinggali sejak zaman orok.
Namun, ada satu hal yang membuatku kesal di saat itu yakni seorang manusia memaksaku mengiyakan ucapnya. Padahal, aku tidak ingin dan terpaksa menjawab "iya". Bagaimana lagi, manusia itu memiliki sifat pemaksa dan sok tahu dalam banyak hal. Itu pandanganku. Dia seolah tahu apa yang aku pikirkan namun nyatanya gagal paham dengan apa yang kuucap. Salah besar memang, tapi kubiarkan saja.
Nah, itu kesalahanku yang membiarkan Manusia sok tahu itu semakin memaksa. Oke, aku tahu sebenarnya Manusia itu menegurku soal permasalahan kemarin. It's okay! Tapi nyatanya dia gagal paham soal permasalahan kemarin.
Biarlah, Aku tak punya alasan untuk memikirkan manusia lain yang bahkan tak spesial di hati dan hidupku. Dia hanya lewat seperti angin yang tersimpan rapat di arsip kenangan.


Posting Komentar