Fanya asyik sekali bermaian ponsel pintarnya di taksi biru. Ia tengah mengirim pesan pada orang-orang terkasihnya, kalau ia sudah mengontrak sebuah kontrakan dekat dengan kampusnya. Tiba-tiba layar panggilan mengalihkannya. Fanya pun menjawabnya.
“Iya … Benar … taruh semuanya di depan kontrakan saya, Pak … Oke, sebentar lagi saya sampai.“
Panggilan telepon itu di tutup, terdengar bunyinya yang tut, tut, tut di seberang sana. Fanya langsung memasukan ponselnya ke dalam tas, kemudian matanya beralih ke samping.
“Kau pasti akan sangat menyukai kontrakan baru kita, Nina.“ Fanya memeluk Nina karena senang.
“Sampai sana kita akan mendekor kontrakan sesuai dengan keinginanmu,” ujar Fanya tak melunturkan senyumnya. “Apa kau suka?“
Fanya melihat Nina dalam pelukannya diam saja tak menanggapi. “Aku anggap diammu itu sebagai tanda setuju,” putusnya sepihak.
Setelah mengobrol sebentar dengan Nina, secara tidak sengaja Fanya melihat sopir taksi tengah menatapnya. “Bapak fokuslah ke depan. Aku tidak ingin mati muda,” gurau Fanya sambil tertawa.
Pak Sopir yang tertangkap basah itu pun gelagapan saat menjawab. “Ah, i … iyah, Mbak.“
“Kalau bisa dipercepat, ya … Pak. Saya ingin cepat-cepat sampai.“ Pak sopir itu mengangguk-angguk saja menurut.
Tak membutuhkan waktu lama, Fanya telah sampai di depan kontrakan barunya. Terlihat jelas banyak barang-barang miliknya yang sudah sampai terlebih dahulu. Sesaat keluar dari taksi, ia sempat menghirup udara segar khas pedesaan yang menjadi lingkungan barunya sekarang. Hampir saja terlupa, Fanya segera membukakan pintu sebelahnya untuk membantu Nina keluar dari taksi setelah koper dan barang bawaan lainnya diangkut terlebih dulu keluar dari bagasi mobil oleh sang Sopir.
Fanya pun merogoh dompetnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna biru. Kemudian menyerahkannya pada Pak Sopir yang telah mengantarnya.
“Terima kasih, Pak …”
Fanya tersenyum sambil melambaikan tangan saat Sopir itu langsung menacap gas setelah mendapat upah darinya. Begitu mobil taksi yang mengantarnya itu mehilang di belokan jalan. Fanya segera memasukan semua barang-barang ke dalam kontrakan barunya sambil tertawa terbahak-bahak bersamaan sirene mobil pemadam kebakaran yang berdengung keras.
***
“Bagaimana, Nina? Apa kau nyaman dengan kontrakan yang sekarang?“ tanya Fanya pada Nina di sampingnya.
Nina hanya menampilkan senyum manisnya pada Fanya.
“Bagus kalau begitu. Aku akan merapikan semua barang-barang kita.“
Fanya meninggalkan Nina duduk di meja makan yang berada di tengah ruangan itu. Dirinya segera disibukan dengan membersihkan tiap sudut kontrakannya itu. Kontrakan yang berisi dua kamar, satu kamar mandi dan dapur serta ruang tengah sebagai penghubung semua ruangan—menjadi ruang tamu sekaligus ruang makan—ini membutuhkan waktu satu jam untuk membersihkannya. Fanya mengipasi dirinya sendiri dengan tangan, peluh masih mengucur deras di dahinya, matanya melirik Nina yang diam saja dari samping.
“Aku lelah sekali,” keluhnya pada Nina.
“Aku beristirahat dulu atau langsung pergi mandi, ya?“ Jari Fanya terangkat ke dagu, ia sedang berpikir. Akan tetapi sebuah gelas tiba-tiba pecah dan airnya berceceran di lantai dari meja makan. “Heemm … aku mandi sajalah,” putusnya pergi ke kamar.
***
Malam sudah tiba, Fanya keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah dapur. Malam ini, rencananya Fanya akan memasak pasta dengan saus spesial buatannya. Sesaat sebelum ke dapur, ia melihat Nina masih di tempat yang sama, duduk di meja makan.
“Nina … kau sudah lapar, ya. Sampai-sampai sudah duduk dulu di sana?“ serunya sambil berjalan ke dapur.
Kemudian Fanya disibukan dengan merebus pasta-pasta dan meracik saus spesialnya. Tak menunggu waktu lama pasta saus spesial ala Fanya sudah jadi. Dengan girang, Fanya membawa dua piring pasta ke meja makan.
“Makan malam sudah siap!“ teriaknya senang.
Fanya pun menyajikan makanannya, satu untuk Nina dan satunya lagi untuk dirinya. Setelahnya keduanya makan bersama, di sela makan Fanya mendadak bertanya pada Nina.
“Nina apa kau sakit?“
“Bukannya kau selalu suka dengan pasta buatanku?“
“Kau ingin disuapiku, ya?“ Fanya mengambil piring Nina dan mulai menyuapinya. Namun mulut Nina tidak mau terbuka. Sudah beberapa kali Fanya menyuapinya, Nina tidak mau. Hal itu membuat Nina merasa sedih.
“Nina, kenapa tidak mau makan lagi?“ tanyanya muram.
“Kau sudah lama tidak makan ini … Aku membuatnya spesial untukmu saja.“
“Makan, ya … ini enak lohh ….“ Fanya kembali menyuapinya. Tetapi hal yang sama terjadi lagi, Nina tidak mau makan membuat kesabaran Fanya diambang batas.
“Nina … Ayo makanlah … jangan menolak makanan itu tidak baik,” ucap Fanya menahan emosinya. Namun hal berikutnya yang terjadi adalah piring Nina yang masih berisi pasta melayang, membuat pastanya terbang ke mana-mana dan mengotori lantai.
“Lihat lantainya kotor! Aku baru membersihkannya, Nina!“
“Kalau kau tidak suka masakanku tidak usah membanting piringmu!“ berangnya marah.
“Aku tahu masakkanku tidak enak,” kata Fanya kemudian. Ia duduk kembali ke tempatnya dan menunduk sedih.
“Harusnya kau bilang saja tidak enak, tidak usah membanting piringnya!“ bentaknya pada Nina. Tetapi Nina bergeming saja.
Setelahnya, Fanya menangis, suaranya terdengar menggema ke seluruh ruangan. Cukup lama Fanya menangis sampai sesegukan. Begitu tangisnya sudah reda, Fanya berdiri dan mebawa piringnya serta membersihkan kekacauan yang ada tanpa berkata. Kemudian kembali ke kamarnya dengan tenang.
Esoknya, Fanya terbangun karena alarm ponselnya yang berbunyi. Begitu melihat jam sudah menunjukan pukul 7.30 mulutnya langsung berteriak.
“Aaa, tidak! Aku akan terlambat ke kampus!“ Fanya segera bangun dan bergegas ke kamar mandi kemudian bersiap memakai kemeja, sedikit berdandan dan memasukan alat-alat tulisnya.
Selesainya, Fanya segera berlari keluar kontrakan dan melupakan sarapannya. Ia segera menelpon ojek online untuk mengantarnya ke kampus. Tak terlalu lama, ojek online itu datang dan langsung mengantarnya ke kampus. Begitu sampai di kampus, ia terkejut melihat ruang kelasnya kosong.
“Loh, ke mana semua orang?“ gumamnya heran.
Fanya merogoh tasnya dan mengambil ponselnya untuk mengecek informasi terbaru hari ini. Begitu membaca informasi, Ia menepuk jidatnya.
“Bodoh! Hari ini aku kuliah siang, kenapa aku tak mengecek ponselku dulu.“
Fanya yang tengah kesal tak menyadari di belakangnya ada seseorang. Seseorang itu pun mengangetkan Fanya.
“Dor!“ Fanya langsung terkejut dan memukul pelaku yang mengejutkannya itu. “Aduh … duh … maaf, Fanya … maafkan aku … aku takkan melakukannya lagi.“
“Makanya, jangan seperti itu lagi. Suruh siapa gangguin aku, Abi!“ kata Fanya kesal.
Abi adalah teman sekampusnya Fanya namun ia beda jurusan dengannya. Ia adalah mahasiswa hukum. Fanya sempat mendengar rumor tentang Abi dari teman-temannya kalau laki-laki itu mencintai Fanya. Tetapi Fanya tak percaya, lagian dirinya tak menganggap Abi lebih dari itu.
“Fanya … mau ke mana?“ tanya Abi sambil menggaruk tengkuknya yang pasti tidak gatal
Fanya yang tak menyadarinya segera menjawab, “Ngga tahu, kayaknya aku pulang aja deh. Nina pasti nungguin aku.“
“Nina? Nina temanmu?“
“Iya, siapa lagi? Aku sudah anggap dia sebagai adikku.“
“Ah, ya! Aku lupa membuat sarapan untuknya karena terburu-buru ke kampus,” ungkap Fanya.
“Aku lupa mengecek grup kelas. Kalau hari ini aku kuliah siang.“ Abi mengangguk-angguk paham.
“Bagaimana kalau kita beli bubur cirebon ke sukaanmu dan belikan juga untuk temanmu Nina. Aku tebak … kau belum sarapan, ya?“
Fanya tidak menjawab hanya menampilkan cengiran khasnya. Kemudian langsung menggandeng tangan Abi agar segera berangkat menuju warung bubur Cirebon.
Sampai di sana, Fanya dan Abi makan bersama. Setelahnya Fanya ingin pulang karena mencemaskan Nina, Abi pun mengantarnya ke kontrakannya.
“Terima kasih, ya!“ ujar Fanya pada Abi yang turun dari motornya.
“Sama-sama.“
“Apa kau akan membiarkan aku masuk?“ tanya Abi.
“Tentu … tentu. Silakan masuk,” balas Fanya dengan senyum ramah.
Fanya masuk setelah Abi masuk terlebih dulu. Begitu masuk sedikit terkejut.
“Apa itu Nina?“ tanya Abi menunjuk Nina yang bergeming dalam duduknya di Meja makan.
“Iya, ini Nina.“ Fanya memperkenalkan Abi pada Nina, begitu juga sebaliknya.
“Duduklah tidak usah malu,” ujar Fanya pada Abi yang menunjukkan gestur yang tidak nyaman.
Abi yang sudah terlanjur masuk pun memaksakan dirinya duduk berhadapan dengan Nina. Namun belum saja lima menit duduk di sana Abi sudah tidak nyaman. Abi yang masih bersabar menunggu Fanya datang dari dapur menjadi gelisah.
“Fanya!“ Abi memanggil, tapi Fanya tidak menjawab.
Abi yang tidak sabar pun bangun dan hendak berjalan mendekati dapur Fanya. Tetapi, kakinya mendadak terasa sakit. Saat diperiksa ia menginjak pecahan gelas minuman di bawah meja.
“Sedang apa kau?“ tanya Fanya mengagetkan Abi dengan kemunculannya yang tiba-tiba.
Abi yang gugup menjawab dengan suara yang bergetar. “Ti … tidak …”
“Oh … i-iya … Fan … Fanya … aku ada harus pergi tiba-tiba ibuku menelpon tadi.“
“Kenapa harus buru-buru? Kau baru saja sampai di sini,” kata Fanya kecewa.
“Ti … tidak bisa. Aku harus pergi, bye!“ Abi langsung berlari keluar begitu saja, meninggalkan Fanya dalam keheranan.
Abi segera menyalakan motornya kemudian mencapkan gasnya, melesat cepat membelah jalan. Sesaat sebelum ia pergi, Abi sempat berkata, “Dia benar-benar orang gila, aku tidak akan ke sini lagi.“
Sementara itu di tempat Fanya, Fanya tengah menonton telivisi sambil menikmati semangkuk bubur Cirebon bersama Nina.
“Lihat ada berita bagus Nina!“ tunjuknya ke layar TV sambil tertawa bahagia.
[ ...Sebuah sepeda motor melaju cepat menabrak pembatas dan terjun ke sungai. Tidak ada yang tahu apa penyebab kecelakaan itu. Para kepolisian tengah menyelidikinya ...]
11 Jan 2023
Arung Ehan
*Cerpen ini aku dedikasikan untuk tugas membuat cerpen Nonsense. Menurut kalian cerita ini sudah masuk genre Nonsense?? Kasih aku jawaban, ya ... Karena aku ngga tahu harus tanya siapa lagi :). Ini sebagai bahan evaluasi aku belajar, DM aku or komen di bawah sini^^...
Thanks udah baca cerpen aku :)


Posting Komentar